ASSALAMUALAIKUM......
akhi apa kabar..??? yah uhkti gmna kabarnya..???
semoga senantiasa sehat selalu dan slalu mendapatkan naugan dari Allah SWT. ringkasan blok ini adalah memberikan yg gratis tanpa harus membayar... untuk pertama kalinya saya meposting mp3 yg tentunya bukan disco hhehe canda.. berikut mp3 yg akan slalu mengingatkan kita dlam naugan allah, nasyid, nasyid tanpa musik lantunan merduh bangat dan menyemangatkan rohani kita dlam berjihad..
download gratis...
- Iqdzifi.mp3HayyaAlalJihad-Barudati.mp3HayyaAlalJihad-LamYaudIllasSilah.mp3HayyaAlalJihad-Fajiruhum.mp3HayyaAlalJihad-TaroktalAhla.mp3JihadAlami-DaaDaiHayyaLilJihad.mp3HayyaAlalJihad-Lanalloh.mp3HayyaAlalJihad-YammanallohuKitabak.mp3HayyaAlalJihad-LabbaikaYaAqso.mp3MoslemMuwahhid-AqdzifinNiiran.mp3JihadAlami-DaarAl-ghuruur.mp3JihadAlami-IzziImani.mp3JihadAlami-
berikut adalah aplikasih hp yang berguna untuk umat islam
tapi sebelumya kita baca dulu yg satu ini nasehat untuk kita semua...
Keutamaan
Dzikir
Rumah orang yang berdzikir kepada Allah adalah
rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak berdzikir adalah seperti rumah
orang mati, atau kuburan.
Dzikir merambah aspek
yang luas dalam diri insan. Karena dengan dzikir, seseorang pada hakekatnya
sedang berhubungan dengan Allah. Dzikir juga merupakan makanan pokok bagi hati
setiap mu'min, yang jika dilupakan maka hati insan akan berubah menjadi
kuburan. Dzikir juga diibaratkan seperti bangunan-bangunan suatu negri; yang
tanpa dzikir, seolah sebuah negri hancur porak poranda bangunannya. Dzikir juga
merupakan senjata bagi musafir untuk menumpas para perompak jalanan. Dzikirpun
merupakan alat yang handal untuk memadamkan kobaran api yang membakar dan
membumi hanguskan rumah insan. Demikianlah diungkapkan dalam "Tahdzib
Madarijis Salikin".
Rasulullah SAW juga
pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti
orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai
orang yang mati:
عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالذِّي
لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang
berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah seumpama orang
yang hidup dan mati."
(HR. Bukhari)
Bahkan dalam riwayat
lain, Rasulullah SAW juga mengumpamakannya dengan rumah. Rumah orang yang
berdzikir kepada Allah adalah rumah manusia hidup, dan rumah orang yang tidak
berdzikir adalah seperti rumah orang mati, atau kuburan.
Seorang mu'min yang
senantiasa mengajak orang lain untuk kembali kepada Allah, akan sangat
memerlukan porsi dzikrullah yang melebihi daripada porsi seorang muslim biasa.
Karena pada hakekatnya, ia ingin kembali menghidupkan hati mereka yang telah
mati. Namun bagaimana mungkin ia dapat mengemban amanah tersebut, manakala
hatinya sendiri redup remang-remang, atau bahkan juga turut mati dan porak
poranda.
URGENSI
DZIKIR DALAM KEBERSIHAN HATI SEORANG DA'I
Dari sini dapat diambil
satu kesimpulan bahwa tidak mungkin memisahkan dzikir dengan hati. Karena
pemisahan seperti ini pada hakekatnya sama seperti pemisahan ruh dan jasad
dalam diri insan. Seorang manusia sudah bukan manusia lagi manakala ruhnya
sudah hengkang dari jasadnya. Dengan dzikir ini pulalah, Allah gambarkan dalam
Al-Qur'an, bahwa hati dapat menjadi tenang dan tentram (13:28)
الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ
أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati
menjadi tenang."
Ketenangan bukanlah
sebuah kata yang tiada makna dan hampa. Namun ketenangan memiliki dimensi yang
sangat luas, yaitu mencakup kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah SWT
ketika memanggil seorang hamba untuk kembali ke haribaan-Nya guna mendapatkan
keridhaan-Nya, menggunakan istilah ini:
"Wahai jiwa-jiwa
yang tenang. Kembalilah kamu pada Rabmu dalam kondisi ridha dan diridhai. Maka
masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam
surga-Ku." (Al-Fajr, 27-30)
Ketenagan hati juga
berkaitan erat dengan kebersihan hati. Hati yang tidak bersih, tidak dapat
menjadikan diri insan menjadi tenang. Bahkan penulis melihat bahwa kebersihan
hatilah yang menjadi pondasi tegaknya bangunan ketenangan hati. Dan disinilah dzikir
dapat mengantisipasi hati menjadi bersih, sebagaimana dzikir juga dapat
menjadikan hati menjadi tenang. Dan ini pulalah letak urgensitas dzikir dalam
hati seorang da'i.
Adalah suatu hal yang
teramat tabu bagi seorang da'i, meninggalkan dzikir dalam setiap detik yang
dilaluinya. Karena dzikir memiliki banyak keistimewaan yang teramat penting
guna menjadi bekalan da'wah yang akan mereka lalui. Salah seorang salafuna
saleh ada yang mengatakan, "Lisan yang tidak berdzikir adalah seperti mata
yang buta, seperti telinga yang tuli dan seperti tangan yang lumpuh. Hati
merupakan pintu besar Allah yang senantiasa terbuka antara hamba dan Rabnya,
selama hamba tersebut tidak menguncinya sendiri." Adalah Syekh Hasan
al-Basri, mengungkapkan dalam sebuah kata mutiara yang sangat indah:
تَفَقَّدُوْا الْحَلاَوَةَ فيِ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءٍ : فِي
الصَّلاَةِ، وَفِي الذِّكْرِ وَفِي قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ....
وَإِلاَّ فَاعْلَمُوْا أَنَّ اْلبَابَ مُغْلَقٌ
"Raihlah keindahan dalam tiga hal; dalam shalat, dalam dzikir
dan dalam tilawatul Qur'an, dan kalian akan mendapatkannya.... Jika tidak maka
ketahuilah, bahwa pintu telah tertutup."
Inilah pentingnya dzikir
bagi kebersihan hati seorang da'i. Dengan dzikir, seorang hamba akan mampu
menundukkan syaitan, sebagaimana syaitan menundukkan manusia yang lupa dan
lalai. Dengan dzikir pulalah, amal shaleh menjadi hidup. Dan tanpa dzikir, amal
shaleh seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Akankan aktifitas da'wah yang
dilakukan da'i menjadi seperti jasad tanpa ruh?
DZIKIR ANTARA HATI DAN LISAN
Dzikir merupakan ibadah
hati dan lisan, yang tidak mengenal batasan waktu. Bahkan Allah menyifati ulil
albab, adalah mereka-mereka yang senantiasa menyebut Rabnya, baik dalam keadaan
berdiri, duduk bahkan juga berbaring. Oleh karenanya dzikir bukan hanya ibadah
yang bersifat lisaniah, namun juga qolbiah. Imam Nawawi menyatakan bahwa yang
afdhal adalah dilakukan bersamaan di lisan dan di hati. Sekiranyapun harus
salah satunya, maka dzikir hatilah yang lebih afdhal. Meskipun demikian, menghadirkan
maknanya dalam hati, memahami maksudnya merupakan suatu hal yang harus
diupayakan dalam dzikir. Imam Nawawi menyatakan:
المُرَادُ مِنَ الذِّكْرِ حُضُوْرُ الْقَلْبِ ، فَيَنْبَغِيْ أَنْ
يَكُوْنَ هُوَ مَقْصُوْدُ الذَّاِكرِ فَيَحْرُصُ عَلَى تَحْصِيْلِهِ ،
وَيَتَدَبَّرَ مَا يَذْكُرُهُ ، وَيَتَعَقَّلَ مَعْنَاهُ...
Yang dimaksud dengan dzikir adalah menghadirkan hati. Seyogyanya
hal ini menjadi tujuan dzikir, hingga seseorang berusaha merealisasikannya
dengan mentadaburi apa yang didzikirkandan memahmi makna yang
dikandungnya..."
Dari sinilah muncul
perbedaan pendapat mengenai dzikir dengan suara keras, atau dengan suara pelan.
Masing-masing dari kedua pendapat ini memiliki dalil yang kuat. Dan cukuplah
untuk menegahi hal ini, firman Allah dalam sebuah ayat:
قُلِ ادْعُوْا اللهَ أَوِ ادْعُوْا الرَّحْمَنَ
أَيًّا مَا تَدْعُوْا فَلَهُ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ
وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا
وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً
" Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman.
Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama
yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan
janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua
itu" (Al-Isra', 17:110)
Meskipun teks ayat di atas dimaksudkan pada
bacaan shalat, namun ada juga riwayat lain yang menunjukkan bahwa dzikir dan
doa juga termasuk yang dimaksudkannya juga.
قال ابن جرير: حدثنا يعقوب حدثنا ابن علية عن سلمة بن علقمة عن
محمد بن سيرين قال: نبئت أن أبا بكر كان إذا صلى فقرأ خفض صوته وأن عمر كان يرفع
صوته فقيل لأبي بكر لم تصنع هذا؟ قال أناجي ربي عز وجل وقد علم حاجتي فقيل أحسنت.
وقيل لعمر لم تصنع هذا؟ قال أطرد الشيطان وأوقظ الوسنان قيل أحسنت فلما نزلت
"ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا" قيل لأبي بكر ارفع
شيئا وقيل لعمر اخفض شيئا
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Sirin, "bahwa Abu Bakar
senantiasa mengecilkan suaranya dalam shalat, sedangkan Umar mengeraskan
suaranya. Hingga suatu ketika Abu Bakar ditanya mengenai pelannya suara, beliau
menjawab, "Aku bermunajat kepada Rabku, dan Allah telah mengetahui
keperluanku." Sementara Umar menjawab, "Aku mengeraskannya untuk
mengusir syaitan dan menghancurkan berhala." Maka tatkala turun ayat ini, dikatakan
kepada Abu Bakar agar mengeraskan sedikit suaranya dan kepada Umar agar
dikecilkan sedikit suaranya."
وَقَالَ أَشْعَثُ بْنُ
سِوَارٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ وَهَكَذَا
رَوَى الثَّوْرِيُّ وَمَالِكٌ عَنْ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أََبِيْهِ عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الدُّعَاءِ
"Asy'ast berkata dari Ikrimah dari ibnu Abbas, bahwa ayat
ini turun pada permasalahan doa. Demikian juga Imam Sufyan al-Tsauri dan Malik
meriwyatkan dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah ra, bahwa ayat ini
turun pada permasalahan doa."
Dan doa merupakan bagian dari dzikir. Kemudian
terlepas dari "jahr" dan "sir", yang paling penting adalah
bagaimana hati dan lisan tidak pernah kering dari dzikrullah.
KEUTAMAAN
HALAQOTU DZIKR
Selain dapat dilakukan
secara "sirr" maupun "jahr", dzikir pun dapat dilakukan
secara fardi dan jama'i. Rasulullah SAW juga menjelaskan mengenai keutamaan
dzikir secara jama'i, yang dilakukan dalam halaqoh-halaqoh dzikir. Imam Nawawi dalam
Riyadhus Shalihin juga mencantumkan bab khusus tentang keutamaan halaqoh dzikir
(Bab ke 247), sebagaimana Imam Muslim juga mencantumkan dalam Shahehnya bab
fadhl Majalis Dzikr. Bahkan jika diperhatikan dan ditadaburi, dalam Al-Qur'an
pun Allah secara tersirat memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa
komitmen dengan halaqoh dzikir:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِّيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ
بْالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ
تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَلاَ تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Dan bersabarlah kamu bersama-sama
dengan orang-orang yang menyeru Rabnya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena)
mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengkuti orang
yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (Al-Kahfi, 18:28)
Adapun dalam hadits, terdapat beberapa riwayat
yang mengungkapkan keutamaan majalis dzikr, diantaranya adalah:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ
،قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ
يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ"
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda,
"Tidaklah sekelompok orang duduk dan berdzikir kepada Allah, melainkan mereka
akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan
ketenangan hati, dan Allah pun akan memuji mereka pada orang yang ada di
dekat-Nya." (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan:
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ :سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ مِنْ أَهْلِ الْكِرَمِ، فَقِيْلَ مَنْ
أَهْلُ الْكِرَمِ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟، قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ فِيْ الْمَسَاجِدِ.
(رواه أحمد)
"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda,
"Allah SWT berfirman pada hari kiamat, 'orang-orang yang berkumpul akan
mengetahui siapakah mereka yang termasuk ahlul karam (orang yang mulia)',
seorang sahabat bertanya, siapakah ahlul kiram ya Rasulullah SAW?, beliau
menjawab, "majlis-majlis dzikir di masid-masjid." (HR. Ahmad)
Dalam hadits lain disebutkan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ
فَارْتَعُوْا، قَالُوْا وَمَا رِياَضُ الْجَنَّةِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟،قَالَ
حَلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالىَ سَيَّارَاتٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ
يَطْلُبُوْنَ حَلَقَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوْا بِهِمْ.
(رواه أحمد والترمذي والبيهقي)
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian
melalui taman-taman surga, maka kelilingilah ia." Sahabat bertanya,
"apakah taman-taman surga wahai Rasulullah SAW?", beliau menjawab,
"yaitu halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah memiliki
pasukan-pasukan dari malaikat, yangmencari halaqoh-halaqoh dzikir, yang apabila
mereka menjumpainya, mareka akan mengelilinginya." (HR. Ahmad, Tirmidzi
dan Baihaqi)
MENTADABURI
AYAT-AYAT DZIKIR
Setidaknya terdapat
sepuluh gambaran, yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an, dengan kaitannya pada
penyebutan dzikir. Kesepuluh hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sebagai perintah, sebagaimana yang Allah
gambarkan dalam surat AL-Ahzab 41-44:
ياأيها الذين ءامنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا. وسبحوه بكرة وأصيلا.
هو الذي يصلي عليكم وملائكته ليخرجكم من الظلمات إلى النور وكان بالمؤمنين رحيما.
تحيتهم يوم يلقونه سلام وأعد لهم أجرا كريما
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut
nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di
waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya
(memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan
kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang
yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu'min itu) pada
hari mereka menemui-Nya ialah: "salam"; dan Dia menyediakan pahala
yang mulia bagi mereka." (Al-Ahzab, 33:41-44)
2. Larangan melupakan dzikir; sebagaimana yang Allah gambarkan
dalam surat Al'A'raf 204:
(ولا تكن من الغافلين)
"Dan
janganlah kamu termasuk golongan mereka-mereka yang melupkan Allah (tidak
berdzikir)"(Al-A'raf, 7:204)
Kemudian juga dalam surat Al-Hasyr, 59:19 :
(ولا تكون كالذين نسوا
الله فأنساهم أنفسهم، أولئك هم الفاسقون)
"Dan janganlah kamu menjadi termasuk orang-orang yang melupakan
Allah, maka Allah pun akan melupakan mereka."
3. Mendapatkan pujian dan surga bagi para pendzikir..Sebagaimana
yang Allah firmankan dalam surat Al-Ahzab, 33:35:
إن المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات
والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين
والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم والحافظات والذاكرين الله كثيرا
والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki
dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang
sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunandan pahala yang besar."
4. Memiliki kaitan erat dengan kemenangan.Sebagaimanayang Allah
firmankan dalam surat al-Anfal, 8:45 :
(واذكروا الله كثيرا لعلكم
تفلحون)
"...Dan berdzikirlah kalaian yang banyak kepada Allah,
semoga kalian beruntung."
5. Kerugian orang yang lalai berdzikir. Sebagaimana yang Allah
firmankan dalam surat Al-Munafiqun, 63:9 :
(يا أيها الذين آمنوا لا
تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون)
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan
anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat
demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
6. Allah menyebut mereka-mereka yang menyebut-Nya. Sebagaimana
yang Allah firmankan dalam surat al-Baqarah, 2: 152 :
(فاذكروني أذكركم واشكروا
لي ولا تكفرون)
"Maka sebutlah Aku, niscaya Aku akan menyebut kalian, dan
bersyukurlah kalian kepada-Ku dan janganlah kufur."
7. Dzikir sebagai suatu hal yang teramat besar. Sebagaimana yang
Allah firmankan dalamn surat Al-Ankabut, 29:45:
(ولذكر الله أكبر)
"Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (dari
pada ibadah-ibadah lain)
8. Sebagai khatimah setiap amal shaleh.
Sebagaimana yang Allah gambarkan sebagai penutup ibadah shalat, (Al-Jum'ah,
62:10):
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا
الله كثيرا لعلكم تفلحون
"Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu beruntung."
9. Hanya orang-orang yang berdzikirlah, yang dapat mengambil
faedah ayat-ayat Allah. Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat Ali Imran,
3: 190-191:
إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي
الألباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات
والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Maha Suci Engkau,maka peliharalah kami dari siksa neraka."
10. Allah menggandengkan dzikir dengan amalan-amalan shaleh
lainnya, seperti dengan jihad. Sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surat
Al-Anfal, 8: 45:
(يا أيها الذين آمنوا إذا
لقيتم فئة فاثبتوا واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون)
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi
pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah
sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
JALAN
MENUJU DZIKIR YANG SHAHIH
Tinggallah sekarang
memahami bagaimana dzikir yang benar. Dzikir yang benar adalah dzikir yang
ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah semata. Bahkan keikhlasan ini juga sampai
pada derajat, tidak boleh meninggalkannya karena takut riya'. Karena
meninggalkan pekerjaan karena takut riya' adalah riya', sebagaimana dikemukakan
Fudhail bin Iyadh:
قَالَ الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، "تَرْكُ
الْعَمَلَ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ النَّاسِ شِرْكُ،
وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيْكَ اللهُ مِنْهُمَا
Fudahil bin Iyadh mengatakan, "Meninggalkan amalan karena
manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas
adalah Allah melepaskanmu dari kedua hal di atas.
Selain keikhlasan, tentu
saja dibutuhkan kesesuaian dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW. Doa
dan dzikir yang ma'tsur lebih utama dari doa yang tidak ma'tsur. Meskipun
demikian, segala bentuk dzikir yang memuji Allah, memohon ampunannya atau bentuk-bentuk
lainnya adalah dapat dilakukan, kendatipun tidak menggunakan lafal bahasa Arab
sekalipun. Hal yang terpenting adalah agar senantiasa berdzikir dalam segala
waktu dan kondisi. Di rumah, di masjid, di kendaraan, di jalanan, di tempat
kerja, terlebih-lebih di medan da'wah...
Dua hal di atas merupakan
hal yang paling pokok dalam melakukan dzikir. Dalam Al-Adzkar, Imam Nawawi
menyarankan agar orang yang seyogyanya memperhatikan adab-adab dalam melakukan
dzikir. Terutama ketika seseorang sedang berada dalam rumahnya, atau di suatu
tempat yang layak. Diantara adab-adab tersebut adalah: hendaknya menghadap
kiblat, posisi duduk yang menggambarkan kekhusyu'an dan ketakutan kepada Allah,
menundukkan kepala, kemudian tempat yang digunakan untuk berdzikir hendaknya
bersih dan sunyi, lebih afdhal juga jika seseorang dalam keadaan suci. Adapun
jika berada pada suasana diluar masjid dan rumah, maka paling tidak keikhlasan,
dan ketundukkan diri pada Allah SWT.
Dzikir adalah suatu hal
yang paling indah dalam kehidupan fana ini. Oleh karenanya, sesungguhnya tidak
ada alasan apapun, yang membolehkan seorang muslim meninggalkan dzikir. Justru
semakin seorang muslim tenggelam dalam kelezatan dzikir, semakin pula ia rindu
dan rindu pada Dzat yang di sebutnya dalam dzikirnya. Dan jika seorang hamba
rindu pada Khlaiqnya, maka Sang Khaliq pun akan rindu padanya. Rasulullah SAW
mengatakan, "barang siapa yang merindukan pertemuan dengan Allah, maka
Allahpun merindukan pertemuan dengan-Nya.... Ya Allah, jadikanlah kami sebagai
hamba-hamba-Mu yang senantiasa Engkau rindukan.... Amiiin.
Wallahu
A'lam bis Shawab
silhakan lanjut mendownload......
2 jarAdabHP.
3 jarhadist_arbain.
4 jarAshluSunnah.
5 jarQuran-id.jarB_
6 ARABIC.jar
7 TARJAMAH
8 .jarBulughulMaram_1.jar
terimakasih moga bermanfaat untuk kita semua..... sampai jumapa di blok selanjutnya assalamualaikum...

